Senin, 07 Januari 2013

KERUSAKAN DESA TAMAN DEWA TALANG SERDANG AKIBAT PENAMBANGAN LIAR MINIMEX



CATATAN KERUSAKAN ALAM YANG DIAKIBATKAN PERTAMBANGAN BATUBARA DI DESA TAMAN DEWA DAN TALANG SERDANG
 








DESA TAMAN DEWA DAN TALANG SERDANG
5 JANUARI 2013



I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Batubara merupakan pertambangan yang sudah dilegalkan oleh pemerintah republik Indonesia. Akan tetapi, pertambangan itu harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan dalam undang-undang No 12 Tahun 2012. Adapun persyaratan itu diantaranya administratif, syarat teknis, syarat Lingkungan dan Syarat Finansial. Setelah melalui beberapa tahapan, Izin Usaha Pertambangan (IUP) baru dapat dikeluarkan oleh menteri pertambangan republic Indonesia.
Dalam hal pertambangan ini, pendiri perusahaan harus sebenar-benarnya menaati peraturan yang telah disepakati sebelum melakukan operasi penambangan. Pendiri harus melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) karena dalam proses penambangan, harus ada kajian mengenai usaha akhir dari penambangan yaitu reklamasi yang mengembalikan kondisi tanah seperti semula.
Disisi lain, penambangan yang ada sekarang banyak yang tidak mematuhi peraturan yang telah dibuat, mereka hanya mementingkan keuntungan semata tanpa memperhatikan lingkungan apalagi masyarakat. Hal ini terjadi sangat jelas yaitu pertambangan yang ada di Desa Taman Dewa dan Desa Talang Serdang, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Pertamangan ini sangat tidak memenuhi persyaratan tempat, Karena jarak yang telalu dekat dengan pemukiman warga ini mengakibatkan kecemasan dan ketakutan warga terhadap longsor yang terjadi. Ini lah yang akan di bahas dalam catatan ini selanjutnya menjadi bahan pertimbangan terhadap siapapun yang merasa berkepentingan dengan catatan ini.





II
PEMBAHASAN
2.1.Kepemilikan / Nama
Perusahaan Pertambangan ini adalah bernama MINIMEX yang kepemilikannya adalah warga asing atau bukan Penduduk Pribumi asli indonesia. Perusahaan ini berjalan hampir kurang lebih 2 tahun dari masa berdirinya dan sampai beroperasi.

2.2.Lokasi Pertambangan
Pertambangan ini terletak di desa Taman Dewa dan Desa Talang Serdang. Di Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Pertambangan ini melibatkan beberapa kepemilikan tanah yang sudah dibeli secara shah dari pemilik pertama. Dan sekarang sudah beroperasi.

2.3.Jarak Pertambangan
Perusahaan pertambangan ini terletak tidak jauh dari pemukiman warga. Bahkan boleh dikatakan bahwa pertambangan ini berada di dalam pemukiman warga yang tidak begitu perhatian terhadap lingkungannya. Jarak pertambangan ini dari jalan Raya adalah sekitar 100 meter dan dapat dibayangkan pemandangan seperti apa yang kita lihat saat dibelakang rumah yang hanya berjarak kurang dari 100 meter. Yang menjadi pertanyaan dalam catatan ini adalah
a.       Apakah ada pertambangan yang berada dalam pemukiman warga?
b.      Apakah layak pertambangan ini beroperasi di dalam pemukiman warga?
c.       Apakah layak warga terus-terusan dibodohi dengan meminta perizinan warga dengan iming-iming 1,5 juta rupiah perkepala?
d.      Apakah warga boleh di usik kedamaiannya sebelum datangnya pertambangan?
e.       Bencana yang bagaimana yang harus dihadapi warga karena bersatu dengan pertambangan?

2.4.Analisis Dampak
Menurut pengakuan beberapa orang pelaku pertambangan Minimex ini disela-sela waktu bahwa pertambangan mereka sudah melakukan analisis dampak yang terjadi akibat pertambangan ini. Mereka pun sudah mempersiapkan solusi yang terbaik untuk warga sekitar. Yang menjadi pertanyaan adalah Apakah solusi yang diberikan oleh pemilik tambang sudah selayaknya dan sudah memuaskan warga?
Jawabanya adalah BELUM, contoh yang konkrit adalah penyediaan air bersih yang disediakan oleha pihak pertambangan saja belum terealisasi secara optimal keseluruh warga. Warga harus masih bersusah payah mengeluarkan uang untuk membeli beberapa peralatan tambangan agar air sampai kerumahnya. Apakah ini dianggap solusi yang cocok?
 III
DAMPAK YANG SUDAH JELAS TERJADI
3.1.Kekeringan
Kekeringan yang diakibatkan oleh pertambangan ini sudah terbukti sejak musim panas bulan September 2012 yang mana kekeringan ini sangat mengganggu warga desa. Sebelum adanya pertambangan ini, musim kemarau yang terjadi belum mengakibatkan kekeringan seperti setelah adanya tambang. Sumur-sumur yang ada disekitar tambang kering kerontang terlihat seperti gua bawah tanah. Solusi yang diberikan oleh pihak tambang yaitu menyediakan sumur bor. Akan tetapi, persediaan air ini sangat tidak optimal karena penyaluran air tidak dilakukan per rumah. Apakah ini layak?

3.2.Longsor
Kerusakan tanah yang diakibatkan longsor sudah terjadi pada tanggal 5 Januari 2013. Longsor ini terjadi di daerah pertambangan dan seterusnya menyebar ke pemukiman warga yang mengakibatkan tanah dan beberapa bagunan mengalami kerusakan. Sebelumnya, pihak pertambangan sudah mengetahui akan hal ini. Dengan melihat tanda keratakan di bawah jalan keluarnya kendaraan pengangkut. Namun, pihak tambang hanya mengalihkan jalan pengangkut batubara ketempat lain untuk menghindari longsor bukan menganggulangi keretakan yang terjadi. Apakah ini merupakan tindakan professional dari pemilik tambang? Atau hanya mencari keuntungan semata dengan mengancam keselamatan warga desa.

3.3.Keretakan Rumah
Masalah kerusakan rumah sebenarnya sangat krusial dan sangat mengancam jiwa penghuninya. Hal ini terjadi di pertambangan MINIMEX desa Taman Dewa dan Talang Serdang. Masalah yang terjadi adalah keretakan dibeberapa bagian rumah seperti dinding rumah, lantai dan tiang rumah yang mengakibatkan kerenggangan pada bagian rumah. Hal ini dianggap sepele oleh beberapa orang yang tidak memahami struktur dari tanah dan bebatuan yang ada di dasar inti bumi. Yang terlihat dari kasar mata permukaan bumi adalah sebatas garisan yang memotong permukaan tanah. Hal ini sebenarnya fenomena yang sangat menakutkan karena bebatuan yang ada dibawah permukaan bumi sudah mengalami pemecahan menjadi beberapa bagian yang memanjang. Bebatuan itu merupakan fondasi yang menguatkan struktur tanah. Apabila batuan itu pecah dan membelah maka secara langsung akan membuat permukaan tanah mengalami pergeseran dan akhirnya akan mengalami erosi hingga hancur. Jadi sangat bias dipastikan bangunan yang ada diatasnya akan hancur. Seperti yang terjadi di rumah Ibu Sukinah yang beberapa bagian rumahnya mengalami keretakan. Kesimpulannya adalah, meskipun pertambangan tersebut melakukan penimbunan ke daerah penggalian untuk menghindari itu terjadi lagi, maka itu tidak akan dapat menyelamatkan kondisi tanah yang sudah mengalami keretakan. Hal itu dikarenakan batuan/batubara yang menjadi fondasi tanah tersebut sudah pecah dan pasti akan mengalami pergeseran dikarenakan struktur tanah yang digunakan untuk menimbun pertambangan lebih lembek daripada batuan yang sudah pecah disebelahnya. Jadi intinya adalah tanah yang sudah mengalami keretakan tidak bias dipulihkan kembali. Dan itu suatu saat pasti mengalami pergeseran kembali. Apa tindakan dari perusahaan ? jangan membodohi masyarakat, karena masih ada masyarakat yang mampu berfikir.

REFERENCES

1.      Peraturan pemerintah republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2012 tentang pelaksanaan kegiaan usaha pertambangan mineral dan batubara
2.      Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang ketentuan pokok pertambangan
3.      Suvey lokasi
4.      Unstructured interview 

FOTO-FOTO KERUSAKAN YANG BARU TERPANTAU 1 WAKTU
f










































































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar